Search This Blog

Showing posts with label Iran. Show all posts
Showing posts with label Iran. Show all posts

Wednesday, June 9, 2010

Robert Einhorn: Masalah Iran dan Israel Berbeda


Jakarta – Israel dan Iran adalah dua negara yang sama-sama mengembangkan teknologi nuklir.


Iran bagi Barat adalah ancaman karena dianggap tak bisa dipercaya soal komitmen. Begitu pula Israel bagi kawasan Timur Tengah.


Robert Einhorn, staf khusus soal perlucutan senjata dan nonproliferasi nuklir Amerika Serikat yang mengunjungi Indonesia akhir pekan lalu, mengatakan masalah Iran dan Israel berbeda.


Catatan Iran sebagai anggota NPT tidak bagus, kata Einhorn.


“Ini bukan AS yang menyatakannya, tetapi internasional, Badan Atom Internasional IAEA yang menyatakannya.”


Menurut dia, tahun 2002 terungkap Iran memiliki fasilitas pengayaan uranium bawah tanah. Penyelidikan oleh IAEA mengungkapkan sejumlah pelanggaran oleh Iran atas komitmennya terhadap IAEA.


Ia mengatakan Dewan Gubernur IAEA dan DK PBB mengeluarkan empat resolusi yang menya takan Iran tidak patuh dan meminta Iran menghentikan pengayaan uranium. “Iran terus membandel,” katanya.


Akhir September lalu, Presiden Obama, Presiden Prancis dan PM Inggris dalam pertemuan di Pittsburgh meng ungkapkan Iran memiliki fasili tas nuklir kedua yang dirahasiakan, hal ini diungkap agen intelijen AS, Inggris dan Prancis.


Menurut Einhorn, pengungkapan fasilitas pengayaan nuklir ini tidak hanya mengejutkan negara-negara yang menentang Iran, tapi juga negara-negara yang mendukung Iran seperti Rusia dan China.


“Namun, pemerintahan Obama membuat kebijakan untuk melibatkan diri dengan Iran, berbicara langsung dengan Iran untuk menemukan solusi masalah yang memisahkan negara kami selama bertahun-tahun. Presiden kami menulis dua surat kepada pemimpin Iran untuk mencoba membangun hubungan lebih baik. Tapi, Iran tidak menanggapinya dengan resiprokal,” katanya.


Einhorn menyatakan ia menghadiri pertemuan dengan Iran di Jenewa, 1 Oktober lalu. Menurut dia, ada kesepakatan, tapi dalam waktu hanya sebulan saja tidak dipatuhi Iran. Banyak orang mengira AS meragukan Iran karena masalah penyanderaan (kasus penyanderaan di Kedubes AS di Teheran tahun 1981, Red.).


Einhorn mengakui sikap AS dan Indonesia kerap berbeda dalam menyikapi masalah nuklir Iran. “Kami punya lebih banyak pandangan negatif tentang Iran ketimbang IAEA. Tapi IAEA mengeluh, El Baradei mengeluh karena kurang kerja samanya Iran. Akibatnya dia sendiri tidak mampu memutuskan apakah Iran punya program nuklir tersembunyi, apakah Iran sudah menunjukkan kemajuan dalam kepatuhannya terhadap komitmen yang dibuat dengan IAEA. Menurut kami kekhawatiran kami soal Iran bukan cuma AS, tapi masyarakat internasional.”


Soal Israel, kata Einhorn, memang ada kekhawatiran soal standar ganda. “Tapi ini berbeda. Iran enggan me matuhi komitmennya, namun tidak ada yang mengklaim Israel tidak mematuhi kewajibannya. Israel bukan anggota NPT. Tidak pernah join NPT,” katanya.


Menurut Einhorn, Israel ingin tetap membiarkan opsi terbuka sepanjang tidak ada perdamaian di kawasan antara Israel dengan negara-negara tetangganya. Israel tidak melanggar kewajiban. “Tapi Iran-lah. AS juga ingin melihat Timur Tengah yang bebas nuklir dan senjata pemusnah massal. Proposal yang lama di ajukan Presiden Mubarak Mesir yang didukung AS. Kami ingin Israel pada akhirnya bergabung dengan NPT. Kami ingin melihat Israel join zona bebas nuklir Timur Tengah. Kami dukung itu dan kami mendukung pembahasan itu antara Israel dengan tetangganya,” katanya.


Einhorn menyatakan pembentukan zona semacam itu sulit sepanjang tidak ada perdamaian di kawasan. Israel memiliki kesepakatan perdamaian hanya dengan Mesir dan Yordania, tapi tidak dengan lainnya. (natalia santi)



dipublikasikan di Sinar Harapan, 13 November 2009


http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/masalah-iran-dan-israel-berbeda/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=11&tx_ttnews[days]=13&cHash=999efd3145

Indonesia Terus Desak Negara Nuklir Lucuti Senjata


Jakarta – Indonesia dalam kapasitas nasional maupun bersama negara-negara Gerakan Nonblok (GNB) terus mendesak negara-negara nuklir untuk melucuti senjata sesuai dengan kewajiban dan komitmen yang tercantum dalam artikel VI Traktat Nonproliferasi (NPT).

Posisi ini senantiasa disampaikan Indonesia di berbagai forum multilateral seperti Sidang NPT, Komite I Majelis Umum PBB, Komisi Perlucutan Senjata PBB, dan Konferensi Perlucutan Senjata PBB. Saat ini Indonesia menjabat sebagai koordinator kelompok kerja perlucutan senjata GNB.

“Upaya yang dilakukan Indonesia bersama negara-negara GNB setidaknya telah membuahkan hasil dengan menurunnya jumlah senjata nuklir dari sekitar 50.000 pada masa Perang Dingin menjadi 23.000 pada saat ini,” ungkap Rezlan Ishar Jenie, Direktur Jenderal Multilateral Departemen Luar Negeri, dalam wawancara tertulis dengan SH, Jumat (13/11).

Indonesia mengakui perlucutan senjata nuklir perlu dilakukan secara bertahap dan transparan dengan jadwal waktu (time-frame) yang jelas serta dapat diveri fikasi.

Sikap Indonesia terhadap isu nuklir Iran dilandasi laporan-laporan Badan Atom Internasional (IAEA). Indone sia terus mengikuti perkembangan pembahasan isu nuklir Iran dalam forum IAEA. Indonesia mengharapkan agar Iran terus bekerja sama dengan badan nuklir dunia itu secara transparan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung (outstanding issues) dan mengembalikan kepercayaan masyarakat internasional terhadap status program nuklirnya.

Dalam kaitan ini, Indonesia menyambut baik keinginan Amerika Serikat untuk berdialog langsung dengan Iran dalam kerangka pembicaraan P-5+1 (lima negara anggota tetap DK PBB ditambah Jerman, red.) dengan Iran belum lama ini. Indonesia mengharapkan pembicaraan antara kedua belah pihak dapat menghasilkan pe nye lesai an yang damai dan me­nyeluruh tentang isu nuklir Iran sehingga isu ini dapat dikembalikan ke IAEA.

Dalam kerangka kerja sama untuk mengisi kemitraan komprehensif antara RI-AS, pada prinsipnya Indonesia bersedia membuka dialog dan konsultasi dengan AS guna membicarakan isu-isu nonproliferasi dan perlucutan senjata.

“Sebetulnya selama ini proses dialog dan konsultasi telah dan akan terus dilakukan dalam berbagai kesempatan pertemuan bilateral, regional dan multilateral. Dalam kapasitas sebagai Koordinator Pokja Perlucutan Senjata GNB tentunya dialog dan konsultasi bilateral dengan AS akan membantu upaya menjembata ni kepentingan negara-negara non-nuklir dan negara-negara nuklir, terutama dalam rangka persiapan Sidang Review Conference NPT Tahun 2010,” papar Rezlan.

Menghargai Sikap AS
Indonesia juga menghargai sikap AS yang lebih positif terhadap Kawasan Bebas Senjata Nuklir di Asia Tenggara (KBSN-AT) mengingat beberapa kawasan bebas nuklir lain merupakan salah satu upaya untuk memperkuat rezim nonproliferasi dan perlucutan senjata nuklir.

Namun, diakui masih terdapat persoalan di antara negara-negara pihak terkait dengan draf Protokol Aksesi, khususnya tentang isu “transit rights and port visit” dan "zone of application”.

Dalam hal ini, Indonesia akan mengupayakan agar masa lah-masalah tersebut dapat segera diselesaikan di antara negara-negara pihak, dengan demikian keinginan negara-negara nuklir termasuk AS untuk mengaksesi KBSN-AT dapat segera diwujudkan.

Menanggapi gagasan Presiden Barack Obama soal "dunia yang bebas senjata nuklir", menurut Rezlan, ide itu telah dikumandangkan sejak beberapa dasawarsa yang lalu oleh negara-negara non-nuklir, termasuk Indonesia.

Gagasan ini sejalan dengan upaya perlucutan senjata nuklir secara utuh dan menyeluruh. “Karena itu Indonesia menyambut baik keinginan Obama untuk ikut aktif mewujudkan gagasan tersebut dalam rangka mengembalikan isu nonproliferasi dan perlucutan senjata nuklir kembali menjadi agenda global yang perlu ditangani serius sebagaimana isu-isu perubahan iklim, ketahanan pangan, ketahanan energi dan krisis finansial glo bal,” papar diplomat yang pernah menjadi Wakil Tetap RI untuk PBB di New York ini. (natalia santi)

dipublikasikan di Sinar Harapan, 13 November 2009

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/indonesia-terus-desak-negara-nuklir-lucuti-senjata/?tx_ttnews[years]=2009&tx_ttnews[months]=11&tx_ttnews[days]=13&cHash=b98bc1d4b7

Nuklir Iran, Bola Ada di Tangan AS


Jakarta – Masalah nuklir Iran tergantung pada kebijakan yang akan diambil Amerika Serikat (AS). Resolusi sanksi tambahan yang diancam akan dijatuhkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa terus bergulir sejak awal tahun 2009, tampaknya belum akan diputuskan hingga tahun 2010.

Sementara Indonesia dapat berperan lebih jauh dalam masalah ini jika pemimpin kita lebih berani bersikap. Kekhawatiran Barat bahwa Iran suatu saat akan membuat senjata nuklir kian meningkat. Apalagi setelah baru-baru ini ditemukan fasilitas baru.

Hamdan Basyar, Direktur Eksekutif ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies) beranggapan teknologi nuklir Iran saat ini belum bisa membuat nuklir. Perkembangan teknologi negeri itu tidak sedahsyat dulu ketika dibantu Amerika Serikat. Karena itu, Iran menggunakan politik tarik ulur dalam bekerja sama dengan Badan Atom Internasional.

“Ketika El Baradei (Direktur IAEA, Red) datang, mereka patuh, ketika Baradei pulang, mereka tidak patuh lagi,” kata Basyar.

Untungnya, Presiden AS saat ini Barack Obama mengedepankan dialog dalam pendekatan terhadap Iran. Sehingga provokasi Iran tersebut tidak menjadikan AS menggunakan kekuatan militernya.

Meski kerap membangkang, Iran tidak akan keluar dari Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT).“Kecil kemungkinan Iran akan keluar dari NPT, karena itu adalah salah satu alat bargaining Iran,” kata Basyar.

Keluarnya Iran dari NPT malah diharapkan AS karena jika Iran keluar dari NPT tidak akan adalagi negara pendukungnya. “Kita juga akan mengecam dan dia akan sendirian.”

Saat ini Iran mengaku tidak percaya pada Barat dan tidak akan pernah percaya. Karena itu apapun yang dihimbau negara Barat tidak akan dipatuhi oleh Iran. Saat mereka kekurangan bahan bakar untuk fasilitas nuklir risetnya, AS pernah menawarkan untuk mengayakannya di luar Iran. Pada awalnya Iran menerima, tapi saat akan dilaksanakan mereka menolak.

“Kami tidak akan mengemis,” kata Behrooz Kamalvandi, Duta Besar Iran untuk Indonesia beberapa waktu lalu. Pihaknya mengkhawatirkan jika uranium yang dimiliki Iran dikirim, maka setelah dikayakan, uranium itu tidak akan dikembalikan lagi ke Iran dengan berbagai alasan.

Indonesia bisa Berperan
Indonesia sebenarnya bisa berperan untuk menjadi penengah atau jembatan dalam masalah tersebut. Meski pihak yang paling dominan adalah kelima negara anggota tetap DK PBB ditambah Jerman (P5+1), dengan Rusia dan China yang dianggap mampu “membujuk” Iran.

“Kita tidak ingin ada musuh. Jadi tidak bisa bersikap tegas kepada pihak yang dianggap bersalah. Kita bermain di antara keduanya,” kata Hamdan.

Sementara menurut Dirjen Multilateral Departmen Luar Negeri RI, Rezlan Ishar Jenie, sikap Indonesia terhadap isu nuklir Iran dilandasi laporan-laporan IAEA. Indonesia terus mengikuti perkembangan pembahasan isu nuklir Iran dalam forum IAEA. Indonesia mengharapkan agar Iran terus bekerja sama dengan badan nuklir dunia itu secara transparan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung (outstanding issues) dan mengembalikan kepercayaan masyarakat internasional terhadap status program nuklirnya.

Indonesia juga mendukung AS untuk terus berdialog langsung dengan Iran dalam kerangka pembicaraan P-5+1 dan mengharapkan pembicaraan antara kedua belah pihak dapat menghasilkan penyelesaian yang damai dan menyeluruh tentang isu nuklir Iran sehingga isu ini dapat dikembalikan ke IAEA.

Hamdan memperkirakan hingga tahun 2010 masalah nuklir Iran akan terus menggantung. Isu itu masih akan dimainkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. (natalia santi)

dipublikasikan di Sinar Harapan, 28 Desember 2009