Deplu Ajak Pengusaha Berbisnis di Afrika
Peluang Pasar Afrika Besar
Jakarta – Besarnya pasar Afrika bukan lagi sekadar potensi tetapi fakta, terutama ketika krisis keuangan global melanda pasar-pasar tujuan tradisional Indonesia seperti Amerika Serikat, Eropa dan Asia Timur saat ini.
“Pasar Afrika jelas, banyak peluang mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut, produk Indonesia diterima di Afrika,” kata Sudirman Haseng, Direktur Afrika Departemen Luar Negeri, saat peluncuran buku Perkembangan Terkini dan Profil Negara-negara Afrika di Jakarta, Rabu (4/3).
Peluncuran buku yang disertai forum dialog “Kiat Keberhasilan Merambah Pasar Afrika” menghadirkan tiga wakil perusahaan Indonesia yang dianggap berhasil merambah pasar Afrika. Ketiga perusahaan itu adalah PT Dexa Medica di bidang obat-obatan, PT Sayap Mas Utama di bidang produk kebutuhan sehari-hari serta PT Epiterma Mas Indonesia di bidang konstruksi.
Menurut Sudirman, respons masyarakat Afrika terhadap produk Indonesia sangat bagus. Karena produk Indonesia termasuk kelas menengah, cocok dengan kondisi rata-rata negara Afrika yang sedang berkembang.
Hambatannya, gambaran masyarakat Indonesia terhadap Afrika masih negatif. Afrika kerap dipandang sebagai benua yang gelap dan tidak aman. Padahal, menurut Sudirman, kehadiran perusahaan-perusahaan Indonesia di sana selama bertahun-tahun merupakan bukti peluang yang besar. Dia sendiri pernah menjelajah 25 dari 46 negara yang menjadi kawasan tugasnya. “Kondisinya cukup kondusif, cukup aman,” kata Sudirman.
Berhati-hati
Deplu berupaya memperkenalkan peluang berbisnis di Afrika melalui dialog serupa ke daerah-daerah di Indonesia dengan mengundang pengusaha yang telah berhasil dan yang baru dalam taraf penjajakan. Meski demikian, Sudirman mengingatkan para pengusaha untuk tetap berhati-hati. “Kita harus tetap hati-hati dan berpegang pada standar normal dalam berbisnis, agar tidak tertipu.” katanya. Deplu melalui seluruh perwakilannya siap memfasilitasi, memediasi dan memberikan informasi yang diperlukan.
Abdul Nasier dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dari Komite Afrika mengatakan, informasi peluang pasar Afrika masih sedikit.
“Perwakilan-perwakilan harus bisa memberi informasi yang jelas, produk-produk apa yang bisa kita jual,” kata mantan Duta Besar Afrika Selatan tersebut. Selain itu, koordinasi antara departemen-departemen yang menyelenggarakan ekspor juga harus ditingkatkan. Banyak departemen dan instansi yang mengurusi perdagangan luar negeri, tapi berjalan sendiri-sendiri.
Hal tersebut juga dikeluhkan peserta yang merasa pemerintah tidak berpihak pada usaha kecil dan menengah. Pengusaha pengolah limbah asal Bogor yang kerap mengikuti pameran di luar negeri tersebut merasa tidak mendapat keuntungan. Terakhir dia mengikuti pameran di Warsawa, Polandia, tapi pengunjungnya sangat sedikit. “Saya lihat anggaran-anggaran pameran sangat besar tapi manfaatnya sangat sedikit dirasakan pengusaha kecil dan menengah seperti saya,” katanya.
Menurut Sudirman, Indonesia menetapkan lima pintu masuk pasar Afrika, yakni Afrika Selatan (Afsel), Kenya, Namibia, Nigeria, dan Maroko. Selain itu, pengusaha juga bisa memanfaatkan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di Johannessburg, Afsel dan di Lagos, Nigeria. Selain itu Duta Besar Indonesia di Namibia menyediakan kantornya sebagai bangsal pameran tetap. (natalia santi)
diterbitkan di Sinar Harapan, Kamis 5 Maret 2009
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/05/lua03.html
No comments:
Post a Comment