Search This Blog

Monday, March 16, 2009

Arsip: Aljazair Siapkan US$ 150 Miliar


Pembangunan Infrastruktur
Aljazair Siapkan US$ 150 Miliar


Jakarta – Aljazair mengharapkan pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di negerinya. Pemerintah Aljazair menyiapkan US$ 150 miliar untuk sejumlah proyek seperti pembangunan jalan tol, bandara, dan pelabuhan.
“Undang-undang investasi Aljazair yang baru dan insentif dari pemerintah merupakan kesempatan yang baik bagi pengusaha untuk mencobanya,” kata Reguieg Bentabet, Ketua Delegasi Parlemen Aljazair kepada SH, Sabtu (7/2) pekan lalu. Dia disertai delapan anggota parlemen lainnya, yakni Ahmed Maouche, Khereddine Ghodbane, Nourdine Guebabi, Fougil Zaghouati, Said Chariki, Moulouc Hechemane, Ghadbane Liheirddine, dan Nadia Khedin.
Menurut Bentabet, Pemerintah Indonesia juga mempertimbangkan hubungan baik antarparlemen bisa diterjemahkan dalam kerja sama ekonomi perdagangan. Kedua negara telah memiliki kedekatan dalam sejarah, bermula dari upaya Indonesia atas kemerdekaan Aljazair dari Prancis.
Dalam perspektif ekonomi, Aljazair ingin menganekaragamkan pasarnya yang selama ini didominasi oleh Eropa.
“Mayoritas perusahaan asing di Aljazair adalah perusahaan Eropa. Jadi kami ingin mendorong mitra-mitra di Asia untuk datang ke Aljazair,” kata Bentabet. Saat ini baru satu perusahaan Indonesia yang menggarap proyek-proyek di Aljazair, ungkapnya. Berbagai sektor yang bisa digarap selain infrastruktur dan pekerjaan publik adalah pertanian, pariwisata dan perikanan.
Di bidang politik, kedua negara banyak memiliki visi yang sama, terutama dalam memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah. Namun dalam masalah Sahara Barat, Indonesia memilih bersikap netral, sementara Aljazair mendukung kemerdekaan wilayah itu. Bentabet menyatakan harapannya bahwa suatu saat Indonesia juga akan mendukung kemerdekaan Sahara Barat, wilayah tetangganya.
“Indonesia juga pernah merasakan kekejaman penjajahan, kami berharap di masa mendatang Indonesia bisa menjadi negara yang mendukung kemerdekaan Sahara Barat,” katanya.
Bulan Mei mendatang, kedua negara akan memperat hubungan dengan menjadikan Kota Setif dan Bandung sebagai kota kembar (sister city). “Kedua kota sama-sama menjadi simbol sejarah Aljazair dalam merebut kemerdekaan dari Prancis,” kata Bentabet.
(natalia santi)

diterbitkan di Sinar Harapan, Sabtu 14 Februari 2009

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/14/lua02.html

No comments: